Visualisasi Data · Pulau Sulawesi

Sulawesi Telah Melampaui Batas

Pada 2024, daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup (D3TLH) Pulau Sulawesi mencatat skor 4,5 dari 5 — berstatus "Melampaui Batas". Ekspansi tambang nikel, smelter, dan PLTU captive terus berjalan meski kondisi ekologis sudah kritis, menyisakan kerugian ekonomi, sosial, dan kesehatan bagi warganya.

Visualisasi ini dibuat oleh: Sarjan Lahay
0
Skor D3TLH Sulawesi 2024
Status: Melampaui Batas
0
Izin tambang baru terbit
2014–2024 (18x luas DKI Jakarta)
0
Izin tambang baru terbit — 60%
di antaranya hanya dalam 2 tahun terakhir
0
Rupiah estimasi kerugian ekologis
kumulatif (hutan, terumbu karang, air)
01 · Status Daya Dukung Lingkungan

Lima matriks, satu status: melampaui batas

Skor D3TLH dihitung dari lima matriks utama menggunakan metode MCDA Min-Max & WSM. Klik tiap kartu untuk melihat rincian sub-indikator penyusun skornya.

4,5/5
Melampaui Batas

Pelabelan status Likert D3TLH: Skor 1–2 = Tidak Melampaui Batas · Skor 3 = Mendekati Batas · Skor 4–5 = Melampaui Batas.

02 · Tata Kelola Ekstraktif

Izin terbit justru saat kerusakan sudah terparah

Sepanjang 2014–2024, rata-rata 224 hektare ruang Sulawesi berpindah ke tangan pemegang izin tambang setiap hari — setara 1 hektare hutan berubah jadi tambang tiap 6 menit.

1,1 Juta Ha
Izin tambang baru 2014–2024, setara 18 kali luas DKI Jakarta
574 Izin
Izin tambang baru terbit; 344 di antaranya (60%) hanya pada 2023–2024
85,3%
Izin tambang terbit ketika deforestasi provinsi sudah di atas rata-rata
224 Ha/Hari
Rata-rata ruang Sulawesi berpindah ke pemegang izin tambang setiap hari
324 IUP
Izin baru terbit saat deforestasi provinsi sudah di atas rata-rata
4,4x Lipat
Kenaikan penerbitan izin setelah 2020 dibanding periode sebelumnya
03 · Konsentrasi Industri & Energi

Terpusat di dua provinsi, listriknya tak keluar pabrik

Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara menampung hampir seluruh fasilitas pengolahan nikel dan pembangkit listrik captive di Sulawesi — sementara listrik yang dihasilkan tak satu megawatt pun mengalir ke jaringan publik.

Ukuran lingkaran proporsional terhadap konsentrasi fasilitas industri nikel di tiap provinsi. Titik ditempatkan di ibu kota provinsi sebagai penanda lokasi.

Konsentrasi fasilitas di Sulteng & Sultra

Persentase dari total fasilitas se-Sulawesi
Sumber data: CELIOS, Melampaui Batas (2025)

Kawasan industri & kapasitas listrik captive

6 kawasan industri, 6 pelabuhan ekspor (4 berstatus PSN)
Sumber data: CELIOS, Melampaui Batas (2025)
Listrik yang tak pernah keluar pabrik: Hampir 10.000 MW listrik dibangkitkan di dalam kawasan industri untuk kebutuhan sendiri — nol megawatt masuk ke jaringan publik. Listrik beredar di dalam pabrik, sementara dampaknya (emisi 581,1 juta ton CO₂ dan kenaikan konsentrasi NO₂) beredar di luar.
04 · Dampak Sosial, Ruang Hidup & Kesehatan

Beban penyakit naik, fasilitas kesehatan tertinggal

Wilayah lingkar tambang menanggung beban ganda: ruang hidup yang hilang tanpa pemulihan, konflik yang berujung represi, dan beban penyakit yang jauh lebih tinggi dibanding wilayah non-ekstraktif.

Kasus penyakit: sentra industri vs non-sentra

Rata-rata kasus per kabupaten-tahun
Sumber data: CELIOS, Melampaui Batas (2025)

Fasilitas kesehatan: sentra industri vs non-sentra

Rata-rata jumlah fasilitas per provinsi
Sumber data: CELIOS, Melampaui Batas (2025)
91,5 Ribu Ha
Kerusakan kawasan penghidupan masyarakat terakumulasi, 2014–2023
95 Sengketa
Sengketa agraria melibatkan 90.582 jiwa & 59 komunitas; 51 kasus belum ditangani
46 Konflik
Berujung represi: 93 orang ditangkap, 4 luka, 1 meninggal; tambang jadi sektor terbanyak (17 kasus)
05 · Paradoks Ekonomi & Krisis Biodiversitas

Kaya nikel, tapi kemiskinan tak tertinggal

Di Sulawesi Tengah, pertanian tinggal menyumbang 15,8% struktur ekonomi, sementara tambang dan industri mencapai 55,8% — menciptakan ketergantungan pangan dari luar daerah. Morowali, pusat ledakan industri nikel, masih menghadapi persoalan kemiskinan yang belum tertinggal.

Struktur ekonomi Sulawesi Tengah

Kontribusi sektor terhadap perekonomian daerah
Sumber data: CELIOS, Melampaui Batas (2025)

Hutan yang dibabat: tambang & sawit vs ladang berpindah

Hektare, 2014–2023
Sumber data: CELIOS, Melampaui Batas (2025)
>Rp100 Triliun
Estimasi kerugian ekologis kumulatif: hutan primer, terumbu karang, sumber air bersih
269 Titik
Penampakan 7 spesies satwa endemik beririsan dengan wilayah IUP nikel (2 kritis, 2 terancam, 3 rentan)
32,8 Juta Ton
Limbah B3 industri nikel per tahun (Sulteng 25,3 jt ton, Sultra 6,5 jt ton)
06 · Akuntabilitas Korporasi

10 korporasi yang paling merusak Sulawesi

Diperingkat berdasarkan kombinasi luas konsesi aktual, total kekayaan pemilik/afiliasi (CELIOS), dan estimasi kerugian ekologis yang ditimbulkan.

Sumber data: CELIOS, Melampaui Batas (2025) · estimasi kekayaan mengacu pada data CELIOS/LHKPN/Forbes sebagaimana dicatat dalam laporan sumber
07 · Bagaimana Semua Ini Berkaitan

Dari izin tambang ke krisis yang melampaui batas

Lima langkah berikut menyusun ulang temuan di atas menjadi satu alur.

01

Izin terus terbit

574 izin tambang baru terbit 2014–2024, 60% di antaranya hanya dalam dua tahun terakhir — saat kerusakan sudah terparah.

02

Industri terkonsentrasi

Sulteng & Sultra menampung 78% smelter nikel dan 90% PLTU captive, memicu emisi dan polusi udara yang terpusat.

03

Daya dukung terlampaui

Skor D3TLH mencapai 4,5/5 — status "Melampaui Batas" di seluruh matriks udara, air, lahan, dan sosial.

04

Warga menanggung beban

91,5 ribu ha ruang hidup hilang, 95 sengketa agraria, beban penyakit lebih tinggi dengan fasilitas kesehatan lebih sedikit.

05

Regulasi belum menjawab

Status "melampaui batas" belum otomatis menghentikan izin baru atau mewajibkan pemulihan lingkungan.

“Pada 2024, Sulawesi telah berada dalam status melampaui batas D3TLH, dengan skor 4,5 dari 5. Masalahnya bukan hanya tekanan ekologis yang semakin berat, tetapi kegagalan regulasi menerjemahkan status tersebut menjadi tindakan hukum yang mengikat.” — Muhamad Saleh, Peneliti CELIOS